What's new

Dapatkan Daftar Situs Slot Online di SlotAO.com: Forum Slot Online Indonesia

Masih mencari kumpulan daftar situs judi slot online terpercaya yang fair play? Sekian banyak bandar slot online yang bertebaran di internet pasti membuat anda bingung, mana situs judi slot online yang terbaru dan terbaik. Apalagi saat menghadapi pandemi Covid ini yang tak kunjung habis ini, orang - orang berbondong-bondong mencari situs judi slot online terpercaya 2021 untuk mengisi waktu luangnya. Tunggu apa lagi, bergabung bersama kami disini untuk sharing bersama!

Ask question

Ask Questions and Get Answers from Our Community

Answer

Answer Questions and Become an Expert on Your Topic

Contact Staff

Our Experts are Ready to Answer your Questions

Kali Ilang Kedhunge: Ramalan Jayabaya yg Relevan untuk Saat Ini

SlotAO

Moderator
Staff member
Joined
Dec 16, 2021
Messages
10,536
Reaction score
0
Points
6
Kali Ilang Kedhunge: Ramalan Jayabaya yg Relevan untuk Saat Ini


Cangkeman.net -Jangka Jayabaya atau ramalan Jayabaya begitu populer di kalangan masyarakat Jawa. Mayoritas orang jawa yg kini berusia 40an tahun ke-atas pasti mengenal ramalan ini. Meskipun tidak mengetahui secara utuh, minimal pernah mendengar beberapa bagian dari ramalan tersebut.

Jangka Jayabaya yg kita kenal saat ini sebenarnya merupakan gubahan ulang dari versi aslinya. Gubahan ulang tersebut termuat dalam kitab Musasar(Asrar) yg ditulis oleh Sunan Giri Prapen (Sunan Giri ke-3) pada tahun 1618 M.

Ada banyak hal yg dinubuatkan dalam kitab tersebut. Jika ditotal ada 212 poin ramalan. Jumlah angka yg cantik, angka yg identik dengan seorang pendekar berkapak & setengah gila. Juga identik dengan geng yg suka bikin acara reuni di Monas sono. Sebuah kebetulan yangembuhbanget.

Kali ilang kedhunge: makna harfiah

Salah satu poin dalam ramalan Jayabaya berbunyi 'kali ilang kedhunge'. Jika dialihbahasakan artinya adalah sungai sudah kehilangan palungnya (bagian yg dalamnya). Semasa kecil saya, hampir semua aliran sungai di kampung adakedhung-nya. Di mana ada sungai yg menurun agak curam, di situ pasti adakedhung.

Kedhungini jadi bagian vital dari sungai, ia jadi semacam tempat pengolahan sampah secara alamiah. Di bagian ini segala macam sampah & kotoran mengalami proses penguraian. Sampah-sampah yg mayoritas organik (jaman dulu mana ada plastik) akanmulek, berputar mengikuti pusaran air hingga terurai & jadi makanan bagi binatang penghuni sungai.

Selain itu kedhung juga jadi tempat favorit bagi anak-anak untuk mandi sambil bermain. Bocah-bocah kampung biasanya belajar berenang secara otodidak di sini. Kadang juga sambil latihan loncat indah dari pohon di kiri-kanan sungai. Sedangkan bagi orang dewasa,kedhungadalah tempat paling menjanjikan untuk memancing ikan.

Jika ditinjau secara harafiah kalimat ramalankali ilang kedhungetelah terbukti saat ini. Faktanya hampir semua sungai di kota-kota akbar di Pulau Jawa sudah mengalami pendangkalan, tak lagi memilikikedhung. Sebut saja ciliwung, citarum, cimanuk, bengawan solo, brantas, & lain-lain. Apalagi nasib sungai di perkampungan, lebih ngenes lagi. Sudah menciut drastis seukurunanwangan(semacam selokan).

Akibatnya sampah tak lagi dapat terurai secara alami, lagian tipe sampah jaman sekarang juga mayoritas anorganik. Anak-anakkelangantempat mandi & bermain. Orang-orang dewasa juga kehilanganspotmancing gratisan.

Kali ilang kedhunge: lebih dari sekadar harfiah

Apakah selesai cuma hingga di sini? Saya kira tidak. Seorang pujangga akbar semacam Sunan Giri Prapen mustahil menulis karya yg cuma berbicara di level harfiah saja. Apalagi Sastra Jawa sungguh sangat kaya akan simbol. Pasti ada makna yg tersirat di dalam teks ramalan tersebut, yg patut untuk dikaji lebih dalam.

Bagi saya pribadi nubuatkali ilang kedhungetersebut juga mengandung dimensi sosio kultural. Berkaitan dengan pola hubungan masyarakat Jawa. Dalam hal ini masyarakat dianalogikan sang pujangga sebagai kali atau sungai. Sebuah analogi yg cerdas mengingat sifat keduanya yg sama-sama dinamis, sering mengalir menuju hilir.

Sedangkankedhungmerupakan pengibaratan untuk pamong, tokoh atau tetua dalam masyarakat. Dalam tatanan masyarakat jawa kuno, pamong berasal dari katapamomongyang berarti pengasuh. Maka seorang pamong adalah tempatjujuganuntuk mengadukan segala permasalahan. Juga jadi sumber kawruh serta wawasan bagi anak-anak & generasi muda.

Seorang tetua masyarakat pantang menolak warga yg sowan. Entah kedatangan warga tersebut dengan maksud untuk sekadar silaturahmi ataupun mengadukan suatu masalah. Kalaupun belum sanggup memberikan solusi, minimal sang pamong tetap mendengarkan curhatan para warganya.

Nah, dalam hal ini ramalankali ilang kedhungetelah menemukan konteksnya. Masyarakat modern saat ini, khususnya yg tinggal di perkotaan mulai kehilangan tokoh yg dapat menjadipamomong. Memang masih ada jabatan Ketua RT, RW maupun Lurah, namun peran mereka tak lebih dari urusan administratif saja.

Dalam tatanan masyarakat modern di perkotaan, sudah jarang ada ketua lingkungan yg masih peduli secara personal kepada warganya. Jangankan untuk mendengarkan keluh kesah & menolong mengatasi masalah warga, untuk sekadarjagongansaja kadang tak lagi sempat. Semua disibukkan oleh urusan pekerjaan masing-masing.

Jika warga yg bermasalah dianalogikan sebagai sampah, maka ia sudah kehilangankedhung. Dahulu kala apabila ada warga yg berpotensi jadi sampah masyarakat maka ia akan diajak bicara dari hati ke hati oleh pamong. Melalui pembicaraan yg intens tersebut tak jarang si sampah dapat terurai, dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Jaman sekarang segala macam sampah sudah kehilangan tempat untuk sekadar berputar mengikuti pusaran (curhat). Juga kehilangan sarana untuk terurai secara alamiah. Permasalahan tersebut akan terus menumpuk. Dan seiring waktu ia akan menyumbat aliran hingga menimbulkan luapan (masalah) air. Kita mengenalnya sebagai banjir. Sebabkali wis ilang kedhunge.

Tulisan ini ditulis oleh Rois Pakne Sekar diCangkemanpada tanggal 18 Maret 2022.
Hari ini 15:51
 
shape1
shape2
shape3
shape4
shape7
shape8
Top